PERBEDAAN
TEKANAN PRODUK BIOGAS BERBAHAN TINJA
SAPI DITINJAU DARI
VARIASI PERBANDINGAN CAMPURAN
Oleh : Mahammad Alkholif
Abstrak :
Dekomposisi bahan-bahan organik di bawah kondisi-kondisi anaerobik
menghasilkan suatu gas yang sebagian besar terdiri atas campuran metan dan
karbon dioksida. Gas ini dikenal sebagai Biogas. Kandungan utama biogas adalah gas metana (CH4)
dan karbon dioksida (CO2).
Sumber energi Biogas yang utama berupa kotoran ternak sapi, kerbau, babi, kuda
serta kotoran manusia, tapi yang digunakan peneliti di sini sebagai sumber
energi Biogas adalah kotoran ternak sapi. Penelitian yang dilakukan yaitu untuk
mengetahui lama produksi gas air dan tekanan gas yang dihasilkan yang terdiri
dari 3 kategori. Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan gas yang dihasilkan yaitu berupa
kolom air yang diukur kedalam satuan milimeter. Dari hasil penelitian ini, maka
dapat disimpulkan bahwa tekanan gas optimal terjadi pada kategori kental (40%
air dan 60% kotoran sapi), yaitu sebesar 398 mm kolom air dan lama produksi gas
yang paling optimal terjadi pada hari kedua yaitu hanya membutuhkan waktu 26
jam. Kadar air yang dihasilkan yaitu untuk kategori cair 279 %, kategori sedang
161,25 % dan untuk kategori kental 102,6 %.
Kata kunci :
Biogas, Perbandingan Campuran, Tinja Sapi, Tekanan Gas.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses
untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat, cair)
homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk
sistem biogas sederhana. Salah satu cara menentuka bahan organik yang
sesuai untuk menjadi bahan masukan sistem biogas adalah
dengan mengetahui perbandingan karbon (C) dan nitrogen (N) atau
disebut rasio C/N. Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh para ilmuan
menunjukkan bahwa aktifitas metabolisme dari bakteri methanogenik akan optimal
pada nilai rasio C/N sekitar 25 – 30. kotoran (fases dan urine) sapi perah
mempunyai kandungan C/N sebesar 18. karena itu, perlu ditambah dengan limbah
pertanian lain yang mempunyai imbangan C/N yang lebih tinggi (lebih dari 30).
Bahan baku isian berupa bahan organik seperti kotoran
ternak, limbah pertanian, sisa dapur, dan sampah organik harus terhindar dari
bahan anorganik seperti batu, pasir, plastik dan beling. Tujuannya yaitu agar
proses annerobik di dialam instalasi biogas dapat bekerja secara maksimal. Biogas
yang telah terkumpul di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa
penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.
Penguraian kotoran sapi secara anaerobik di dalam unit biogas memang telah lama
diperkenalkan kepada masyarakat, tetapi tidak berkembang. Banyak kendala yang
dihadapi peternak untuk menggunakan unit biogas diantaranya adalah kesulitan
petani untuk membuat unit degester biogas seperti percontohan biogas yang telah
ada. Mahalnya biaya material dan
pembuatan unit biogas yang dirasakan tidak sebanding dengan nilai tambah yang
diperoleh, sementara itu sumber energi seperti kayu bakar dan minyak tanah
lebih mudah diperoleh dan lebih murah. Sebagai perbandingan, untuk membuat reaktor
biogas dengan kapasitas 9 m3 menggunakan beton cor, biaya
keseluruhan dapat mencapai 8 juta rupiah dengan masa tahan reaktor sekitar 37
sampai dengan 40 tahun. Sedangkan menggunakan bahan dari drum atau tong, tidak akan melebihi angka
1 juta rupiah dengan masa tahan reaktor sampai 15 tahun. Demikian juga bila
perbedaan ditinjau dari aspek waktu pengerjaan dan tenaga kerja yang
dibutuhkan. Melihat keadaan lingkungan yang semakin menurun kualitasnya dan
adanya tuntutan untuk hidup lebih sehat, serta semakin mahalnya sumber energi
seperti kayu bakar, minyak tanah, dan elpiji, maka sangat diperlukan sekali
timbulnya kreatifitas untuk mengembangkan suatu unit biogas yang mudah dan
murah dalam pembuatan serta pengoperasiannya. Oleh karena itu, kami berinisiatif
untuk membuat dan mengembangkan unit biogas yang menggunakan material dari drum
atau tong untuk diterapkan di lingkungan peternakan, serta metode pengoperasian
yang mudah dan praktis sehingga bisa kerjakan langsung oleh para peternak.
Sumber energi biogas yang utama adalah berupa kotoran
ternak sapi, kerbau, babi, kuda serta kotoran manusia, tapi yang digunakan
peneliti disini sebagai sumber energi biogas adalah kotoran ternak sapi. Selain
itu, sisa-sisa jasad hidup misalnya sampah-sampah pertanian seperti ampas
kelapa, sayur-sayuran dan daun-daunan serta tumbuhan yang cepat tumbuhnya
seperti enceng gondok bisa juga di gunakan sebagai sumber energi biogas. Supaya
proses penguraiaan itu berjalan cepat maka sampah organik itu dicacah terkebih
dahulu kemudian dicampur dengan kotoran ternak, tujuanya untuk mempercepat
proses fermentasi. Manfaat dari energi biogas yaitu sebagai pengganti bahan
bakar khususnya minyak tanah yang di pergunakan untuk memasak. Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listik.
Disamping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak
yang dapat langsung di pergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman atau
budidaya pertanian.
Perumusan Masalah
1.
Apakah perbandingan
campuran antara tinja sapi dan air yang berbeda – beda, juga menghasilkan
tekanan produk biogas yang berbeda pula ?
2.
Berapakah lama produksi
gas yang dihasilkan untuk tiap variasi perbandingan yang berbeda – beda ?
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengetahui
seberapa besar tekanan gas yang dihasilkan jika kotoran sapi dicampur dengan
air dengan perbandingan pencampuran yang berbeda - beda.
2.
Untuk mengetahui lama
produksi gas yang dihasilkan dari input sampai dengan bertekanan maksimal.
TELAAH PUSTAKA
Definisi Biogas
Biogas adalah gas yang mudah terbakar (flammable gas) yang diperoleh
dari penguraian senyawa-senyawa organik dalam biomassa sebagai akibat aktivitas
mikroorganisme (fermentasi) pada kondisi tanpa udara (anaerobic). Kandungan
utama biogas adalah gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Sebagian kecil adalah gas hidrogen
sulfida (H2S), nitrogen (N2), hidrogen (H2)
dan oksigen (O2).
Kehadiran gas metana yang besar ini membuat biogas mudah terbakar dan dapat
dipakai sebagai sumber energi untuk memasak, penerangan, bahkan pada skala
besar dapat menghasilkan energi listrik.
Biogas ini juga menghasilkan produk
samping berupa lumpur organik yang dapat diolah menjadi pupuk kompos.
Pengolahan dilakukan dengan cara memisahkan cairan (bisa digunakan sebagai
pupuk cair) dengan padatan melalui proses penyaringan. Kemudian padatannya
dikeringkan dan ditambahkan bahan-bahan lain untuk mencapai komposisi senyawa
kompos yang diinginkan seperti kandungan nitrogen (N), phosfor (P), kalium (K),
magnesium (Mg), kalsium (Ca), dan mineral-mineral lainnya. Bahkan unsur – unsur
tertentu seperti protein, selulosa, lignin dan lain – lain tidak bisa
digantikan oleh pupuk kimia.
Adapun komposisi gas yang terdapat di dalam unit degestion biogas dapat
dilihat pada tabel 1 berikut:
Tabel 1. Komposisi Gas Yang Terdapat Dalam Biogas.
|
Penjelasan
|
Rumus
|
Persentase
|
|
Metana
|
CH4
|
55-65%
|
|
Karbondioksida
|
CO2
|
36-45%
|
|
Nitrogen
|
N2
|
0-3%
|
|
Hidrogen
|
H2
|
0- 1%
|
|
Oksigen
|
O2
|
0-1%
|
|
Hidrogen Sulfida
|
H2S
|
0-1%
|
Sumber :
ESCAP; 1977
Kesetaraan biogas dengan dengan
sumber energi lain tiap 1 m3 dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2 Kesetaraan Biogas
DenganSumber Energi Lain Tiap 1 m3
|
Jenis Gas
|
Jumlah Satuan
|
|
Elpiji
|
0.46 kg
|
|
Minyak tanah
|
0.62 liter
|
|
Minyak solar
|
0.52 liter
|
|
Bensin
|
0.80 liter
|
|
Gas kota
|
1.50 m3
|
|
Kayu bakar
|
3.50 kg
|
Sumber : Direktorat Jendral Pertanian; 2006
Berdasarkan keterangan tentang potensi biogas dari kotoran sapi,
maka dapat ditunjukan hubungan antara aktivitas manusia kaitannya dengan
penggunaan biogas dengan jumlah volume biogas yang digunakan seperti yang
terlihat pada tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3. Hubungan Antara Aktivitas Manusia dengan
Volume Biogas yang digunakan.
|
Aktifitas
|
Volume Gas
|
|
Memasak untuk keluarga
yang jumlahnya 5 - 6 orang
|
2 m
|
|
Measak air dengan
kapasitas tangki 100 liter
|
3 m
|
|
Menyalakan 1 lampu
|
0,1
- 0,15 m
|
|
Mengoperasikan
mesin dengan kekuatan 2 tenaga kuda
|
0,9 m
|
Sumber :
Direktorat Jendral Pertanian; 2006
Proses
Anaerobik dalam Biogas
Proses pengolahan limbah secara anaerobik merupakan
metode yang efektif untuk mengolah berbagai macam limbah organik. Pengolahan
ini dimediasi oleh mikroorganisme anaerobik dan mikroorganisme fakultatif yang
tidak membutuhkan oksigen yang kemudian mengubah zat – zat organic manjadi produk
akhir seperti karbon dioksida (CO2) dam metana (CH4).
Keuntungan utama pengolahan limbah secara anaerobik disbanding dengan
pengolahan secara aerobik adalah sebagai berikut :
a.
Menghasilkan biomasa
yang relatif lebih sedikit.
b.
Mempunyai nilai ekonomis
karena menghasilkan gas metan yang bisa digunakan untuk bahan bakar
c.
Mampu mengolah bahan
organik yang tinggi karena tidak membutuhkan oksigen yang lebih banyak.
Bakteri yang bertanggung jawab untuk
asam asetat secara relatif mengalami perubahan di pH dan temperatur serta
mempunyai perkembangan yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan bakteri
pada gas metana. Sebagai hasilnya gas metana biasanya diasumsikan untuk menjadi
bahan pengendalian dalam proses anaerobik.
Teknologi Pembuatan Biogas
Teknologi ini sebenarnya sudah lama
ada, hanya saja masih kurang populer sehingga perlu dilaksanakan terutama di
desa yang banyak menghasilkan limbah organik baik dari tanaman maupun dari
limbah kotoran ternak seperti yang dimiliki oleh desa Kintelan Kecamatan Puri,
Kabupaten Mojokerto. Dengan potensi yang dimiliki oleh desa tersebut maka
teknologi biogas ini dapat diterapkan, sebagai bentuk untuk memanfaatkan sumber
energi lain yang salah satunya adalah energi biogas. Diharapkan upaya ini dapat
memberdayakan masyarakat desa secara berkelanjutan dengan teknologi tepat guna
tersebut.
Desain Reaktor Biogas
Reaktor Biogas Skala Rumah Tangga.
Reaktor rumah tangga merupakan jenis
reaktor yang banyak digunakan pada skala rumah tangga yang menggunakan bahan
plastik atau drum sehingga lebih efisien dalam penanganan dan perubahan tempat
biogas. reaktor ini terdiri dari satu bagian yang berfungsi sebagai digester
dan penyimpan gas masing masing bercampur dalam satu ruangan tanpa sekat.
Material organik terletak dibagian bawah karena memiliki berat yang lebih besar
dibandingkan gas yang akan mengisi pada rongga atas. Berikut adalah reaktor
rumah tangga yang terbuat dari drum seperti yang terlihat pada gambar 2 di bawah ini.


Gambar 2 Model Reaktor Biogas Skala
Rumah Tangga
Reaktor biogas skala rumah tangga
ini terbuat dari drum dimana terdapat 1 (satu) buah drum untuk pencerna berisi tinja
sapi sekaligus wadah gas yang tertampung dalam sebuah drum dan terdapat 2 (dua)
bak untuk menampung tinja sapi dimana bak yang pertama sebagai inlet berisi
tinja sapi baru untuk diproses menjadi biogas sedangkan bak kedua sebagai
outlet berisi tinja sapi dari hasil akhir proses biogas.
Tinja sapi yang sudah tercampur
secara homogen, dimasukan kedalam bak inlet untuk proses pembentukan biogas.
Tinja sapi dari bak inlet tersebut akan masuk ke bak pencerna gas secara
otomatis melalui pipa inlet. Kemudian dibak pencerna tersebut tinja sapi akan
membentuk gas baru yang disebut dengan
biogas. Tinja sapi yang terdapat didalam bak pencerna selanjutnya akan
mengalir kebak outlet secara otomatis melalui pipa outlet yang merupakan hasil
akhir dari produk biogas. Produk dari hasil akhir proses biogas ini selanjutnya
dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Keunggulan dari reaktor biogas skala
rumah tangga ini adalah :
1.
Konstruksi sederhana,
mudah dan cepat pemasangannya (tidak sampai 1 hari)
2.
Harga terjangkau,
sekitar Rp. 1 juta sudah termasuk pemasangan dan satu unit kompor biogas.
3.
Awet, menggunakan
material dari plastik atau drum khusus sehingga tahan hingga 6 tahun.
4.
Mudah dalam perawatan
dan penggunaan.
5.
Produksi gas setara
dengan 2,5 liter minyak tanah / hari, lebih dari cukup untuk dijadikan bahan
memasak.
6.
Menghasilkan kompos
(pupuk organik) yang sangat bagus kualitasnya dan dapat langsung digunakan pada
lahan atau usaha budidaya pertanian.
Karakteristik Tinja Sapi
Menurut Azrul Azwar (1995), satu
ekor sapi diperkirakan menghasilkan tinja rata – rata sehari sekitas1,5 kg
sampai 2 kg dam menghasilkan air seni sekitas 980 gram. Tinja sapi ini terdiri
dari zat – zat organik (sekitar 40 % untuk tinja dan 3,5 % untuk air seni),
serta zat – zat organik seperti nitrogen, asam fosfat, sulfur dan sebagainya.
Menurut Gotaas (1956), perkiraan kuantitas tinja sapi tanpa air seni adalah 876
– 964 gram per kapita per hari berat basah atau 135 – 270 gram per kapita per
hari berat kering. Perkiraan komposisi tinja sapi dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini.
Tabel 4 Perkiraan komposisi tinja sapi tanpa air seni
|
Komponen
|
Kandungan (%)
|
|
Air
Bahan organik (dari berat kering)
Nitrogen (dari berat kering)
Fosfor (sebagai P2O5) (dari berat
kering)
Potasium (sebagai K2O) (dari berat kering)
Karbon (dari berat kering)
Kalsium (sebagai CaO) (dari berat kering)
C/N rasio (dari berat kering)
|
66 – 80
88 – 97
5,0 – 7,0
3,0 – 5,4
1,0 – 2,5
40 – 50
4 – 5
5 - 10
|
Sumber : Gotaas (1956)
Faktor yang Mempengaruhi Produksi Biogas
Banyak faktor yang mempengaruhi
keberhasilan produksi biogas. Faktor pendukung untuk mempercepat proses
fermentasi adalah kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan bakteri
perombak. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap produksi biogas
antara lain :
1.
Kondisi anaerob atau
kedap udara.
Biogas dihasilkan
dari proses fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme anaerob. Karena itu
instalasi pengolahan biogas harus kedap udara (keadaan anaerob).
2.
Bahan baku isian
Bahan baku isian berupa bahan
organik seperti kotoran ternak, limbah pertanian, sisa dapur, dan sampah
organik. Bahan baku isian ini harus tehindar dari bahan anorganik seperti
pasir, batu, plastik dan beling.
Bahan isian ini harus mengandung
bahan kering sekitar 7 – 9 %. Keadaan ini dapat capai dengan melakukan
pengenceran dengan menggunakan air yang perbandingannya 1 : 1 (bahan
baku : air)
3.
Imbangan C /N
Imbangan Carbon (C) dan Nitrogen (N)
yang terkandung dalam bahan organik sangat menentukan kehidupan dan aktifitas
mikroorganisme. Imbangan C /N yang opimum bagi mikroorganisme perombak
adalah 25 – 30. Kotoran (fases dan urine) sapi perah mempunyai kandungan C/N
sebesar 18. Karena itu, pelu ditambah dengan limbah pertanian lain yang
mempunyai imbangan C/N yang lebih tinggi (lebih dari 30).
4.
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman sangat berpengaruh
terhadap kehidupan mikroorganisme. Derajat keasaman yang optimum bagi kehidupan
mikroorganisme adalah 6,8 – 7,8. Pada tahap awal fermentasi bahan organik akan
terbentuk asam (asam organik) yang akan menurunkan pH. Mencegah terjadinya
penurunan pH dapat dilakukan dengan menambahkan larutan kapur (Ca(OH)2)
atau larutan kaporit (CaCO3).
5.
Temperatur
Produksi gas akan menurun secara
cepat akibat perubahan temperatur yang mendadak di dalam instalasi pengolahan
biogas. Upaya praktis untuk menstabilkan temperatur adalah dengan menempatkan
instalasi biogas di dalam tanah.
6.
Starter
Starter diperlukan untuk mempercepat
proses perombakan bahan organik hingga menjadi biogas. Starter merupakan
mikroorganisme perombak yang telah dijual komersial. Bisa juga menggunakan
lumpur aktif organik atau cairan isi rumen.
METODE PENELITIAN
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipakai
dalam penelitian ini adalah dengan melakukan penelitian di laboratorium Teknik
Lingkungan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Dalam penelitian ini jenis data
yang diperlukan merupakan data yang diperoleh dari hasil pengamatan yang
dilakukan secara langsung di lapangan, yaitu data mengenai tekanan gas yang
diperoleh dan waktu yang dibutuhkan sampai dengan menghasilkan gas yang
optimal. Untuk memperoleh data seperti tersebut di atas, maka ditempuh langkah
– langkah sebagai berikut :
Metode Analisis Data
Adapun metode yang digunakan dalam
analisis data adalah dalam bentuk grafik dan tabel selanjutnya dilakukan
pembahasan dengan jalan membandingkan antar variasi.
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Penyajian Hasil
Penelitian
Data yang sudah berhasil dikumpulkan melalui kegiatan eksperimen pada
penelitian ini adalah : Data mengenai tekanan gas dan lama produksi gas yang
dihasilkan untuk tiap kategori yang berbeda – beda. Data yang dihasilkan
diperoleh dari hasil pengamatan dilapangan secara langsung. Adapun data tentang kadar air untuk tiap kategori seperti pada tabel 5 di bawah ini :
Tabel 5 : Kadar Air Tiap Variabel Bebas
|
No
|
Kategori
|
Perbandingan Material (Air : Tinja)
|
Kadar Air Adonan
|
|
1.
|
Cair
|
60 % air : 40 % tinja sapi
|
296,7 %
|
|
2.
|
Sedang
|
50 % air : 50 % tinja sapi
|
161,25 %
|
|
3.
|
Kental
|
40 % air : 60 % tinja sapi
|
102,6 %
|
Sumber : Hasil
Penelitian
Pada tabel di atas menunjukkan bahwa kadar air dari tiap variasi
perbandingan campuran antara tinja sapi dan air sebelum dimasukkan kedalam
reaktor biogas. Pada tabel ini data yang disajikan merupakan data lengkap
tentang tekanan gas yang tertinggi untuk semua variasi campuran. Adapun data lengkap
mengenai tekanan gas di outlet degester untuk tiap kategori dapat dilihat pada tabel 6 dibawah ini :
Tabel 6 : Tekanan Gas di Outlet Degester
|
No
|
Kategori
|
Perbandingan
Material (Air : Tinja)
|
Tekanan Gas Tertinggi
(mm Kolom Air)
|
Waktu
Proses
|
|
1.
|
Cair
|
60 % : 40 %
|
366 mm kolom air
|
Jam ke- 79
|
|
2.
|
Sedang
|
50 % : 50 %
|
375 mm kolom air
|
Jam ke- 76
|
|
3.
|
Kental
|
40 % : 50 %
|
398 mm kolom air
|
Jam ke- 26
|
Sumber : Hasil Penelitian
1.
Data Tekanan Gas Tertinggi untuk Kategori Cair
Pada kategori ini data yang ditampilkan merupakan data tentang tekanan gas
yang paling optimal dimulai dari hari pertama sampai mencapai tekanan gas yang
terjadi pada hari ke tujuh. Pengamatan dilakukan selama 7 hari dimana tiap hari
dilakukan pengukuran tekanan gas yang dikonversi kedalam milimeter kolom air
dengan variasi waktu antara 2 sampai 3 jam. Tabel 8 merupakan hasil dari tekanan gas tertinggi dari hari
pertama sampai hari ke tujuh.
Tabel 8 : Tekanan Gas Tertinggi pada Kategori Cair
|
Kategori Cair
|
|
|
Hari Ke-
|
Tekanan Gas Tertinggi (mm Kolom Air)
|
|
1
|
350
|
|
2
|
360
|
|
3
|
366
|
|
4
|
345
|
|
5
|
328
|
|
6
|
310
|
|
7
|
305
|
Sumber : Hasil
Penelitian

Gambar 4 : Grafik Hasil Tekanan Gas Tertinggi pada
Kategori Cair
Dari hasil pengamatan, grafik tekanan gas yang dihasilkan untuk kategori
cair terlihat jelas, bahwa tekanan gas tertinggi terjadi pada hari ke- 3 dengan
tekanan gas mencapai 366 mm kolom air dan tekanan gas terendah terjadi pada
hari ke- 4 sampai pada hari ke- 7 dengan tekanan gas mencapai 305 mm kolom air.
Ini menandakan bahwa tekanan yang terjadi setelah hari ke- 3 tidak lagi
mengalami peningkatan.
2.
Data Tekanan Gas Tertinggi untuk Kategori Sedang
Pada kategori sedang ini, data yang disajikan merupakan data tekanan gas
yang maksimal dari hari pertama hingga hari ke- 7. Sama hal pada kategori cair
pengamatan dilakukan selama 7 hari dengan tujuan untuk mengetahui seberapa
besar tekenan gas yang dihasilkan dari hari pertama sampai hari ke- 7 . Pada
kategori sedang ini perbandingan pencampuran antara tinja sapi dan air adalah
50 % tinja sapi : 50 % air. Adapun data tekanan gas tertinggi pada kategori
sedang seperti yang terlihat pada tabel 9
di bawah ini.
Tabel 9 : Tekanan Gas Tertinggi pada Kategori Sedang
|
Kategori Sedang
|
|
|
Hari Ke-
|
Tekanan Gas Tertinggi (mm Kolom Air)
|
|
1
|
340
|
|
2
|
365
|
|
3
|
375
|
|
4
|
360
|
|
5
|
345
|
|
6
|
340
|
|
7
|
366
|
Sumber : Hasil
Pengamatan

Gambar 5 : Grafik Tekanan Gas Tertinggi pada Kategori
Sedang
Hasil pengamatan pada kategori sedang menunjukkan bahwa, tekanan gas yang
dihasilkan untuk tiap pengamatan lebih tinggi atau lebih baik bila dibandingkan
dengan kategori encer. Dari hasil pengamatan untuk grafik tekanan gas yang
dihasilkan untuk kategori sedang terlihat jelas, bahwa tekanan gas tertinggi
terjadi pada hari ke- 3 dengan tekanan gas mencapai 375 mm kolom air dan
tekanan gas terendah mencapai 366 mm kolom air.
3.
Data Tekanan Gas Tertinggi untuk Kategori Kental
Pada kategori kental ini gas yang dihasilkan lebih tinggi dari kategori
cair dan kategori sedang. Pada kategori kental ini perbandingan campuran antara
tinja sapi dan air adalah 60 % tinja sapi : 40 % air. Berikut tekanan gas
tertinggi pada kategori kental seperti pada tabel 10 dibawah ini.
Tabel 10 : Tekanan Gas Tertinggi pada Kategori Kental
|
Kategori Kental
|
|
|
Hari Ke-
|
Tekanan Gas Tertinggi (mm Kolom Air)
|
|
1
|
365
|
|
2
|
398
|
|
3
|
374
|
|
4
|
370
|
|
5
|
352
|
|
6
|
325
|
|
7
|
280
|
Sumber : Hasil
Pengamatan

Gambar 6 : Grafik Tekanan Gas Tertinggi pada Kategori
Kental
Dari hasil pengamatan untuk grafik tekanan gas yang dihasilkan untuk
kategori kental diatas terlihat jelas, bahwa tekanan gas optimal terjadi pada
hari ke- 2 dengan tekanan gas mencapai 398 mm kolom air. Dan tekanan gas
terendah terjadi pada hari ketujuh dengan besar tekanan mencapai 280 mm kolom
air.
4.
Data Tekanan Gas Tertinggi untuk Tiap Kategori
Untuk mengetahui variasi mana yang memiliki tekanan gas yang paling optimal
dari ketiga variasi (encer, sedang dan kental), maka pada poin ini, analis data
yang ditampilkan yaitu berupa tekanan gas yang paling tinggi untuk tiap variasi
saja. Berikut adalah tabel tekanan gas optimal untuk tiap kategori seperti yang
terlihat pada tabel 11 dibawah ini.
Tabel 11 : Tekanan Gas Tertinggi untuk Tiap Kategori
|
Kategori
|
Tekanan Gas Tertinggi (mm kolom air)
|
|
Encer
|
366
|
|
Sedang
|
375
|
|
Kental
|
398
|
Sumber : Hasil Pengamatan

Gambar 7 : Diagram Batang Tekanan Gas Tertinggi untuk
Tiap Kategori
Dari garfik diatas sudah terlihat jelas, bahwa tekanan gas yang tertinggi
terjadi pada kategori kental dengan tekanan gas mencapai 398 mm kolom air.
Peningkatan produksi gas yang terjadi pada variasi kental terjadi karena jumlah
air yang dicampurkan dengan tinja sapi lebih sedikit bila dibandingkan dengan
variasi cair dan variasi sedang. Dengan jumlah air yang relatif sedikit
tersebut mengakibatkan mikroorganisme yang terdapat di dalam tinja dapat
bekerja secara maksimal.
5.
Data Lama Produksi Gas untuk Tiap Kategori
Dari hasil pengamatan mengenai produksi gas yang dihasilkan menunjukkan
bahwa, pada kategori cair membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghasilkan
tekanan gas yang maksimal sedangkan pada kategori kental hanya membutuhkan
waktu kurang lebih 26 jam untuk menghasilkan gas yang paling optimal. Adapun
data tentang tekanan gas dan lama produksi gas dapat dilihat pada tabel 12 dibawah ini.
Tabel 12 : Waktu Proses Gas untuk Tiap Kategori
|
Kategori
|
Lama Produksi Biogas
(Jam Ke-)
|
|
Cair
|
79
|
|
Sedang
|
76
|
|
Kental
|
26
|
Sumber
: Hasil Penelitian

Gambar 8 : Diagram Batang Produksi Gas
6.
Data Gabungan Tekanan Gas Harian
Tertinggi untuk Tiap Variasi
Pada poin ini data yang disajikan merupakan data gabungan tekanan gas
harian tertinggi untuk tiap variasi dimana data yang diambil merupakan tekanan
gas tertinggi saja untuk tiap variasi dimulai dari hari pertama sampai hari ke
tiga. Berikut adalah data gabungan tekanan gas harian untuk tiap variasi
campuran seperti yang terlihat pada tabel
13 dibawah ini.
Tabel 13 Data Gabungan Tekanan Gas Harian Tertinggi untuk Tiap Variasi.
|
Variasi Cmpuran
|
Hari I
|
Hari II
|
Hari III
|
Hari IV
|
Hari V
|
Hari VI
|
Hari VII
|
|
Cair
|
350
|
360
|
366
|
345
|
328
|
310
|
305
|
|
Sedang
|
340
|
365
|
375
|
360
|
345
|
340
|
336
|
|
Kental
|
365
|
398
|
374
|
370
|
352
|
325
|
280
|
Sumber
: Hasil Pengamatan

Gambar 9 Grafik Gabungan Tekanan Gas Harian Tertinggi
Dari hasil grafik gabungan tekanan gas harian tertinggi terlihat jelas
bahwa tekanan gas yang paling maksimal
antara ke tiga variasi tersebut adalah terjadi pada kategori kental dimana
tekanan gas maksimalnya terjadi pada hari ke dua dengan besar tekanan mencapai
398 mm kolom air dan gas terendah mencapai 280 mm kolom air, sedangkan pada
kategori cair dan sedang tekanan gas maksimalnya terjadi pada hari ke tiga
dengan besar tekanan dari masing – masing variasi sebesar 366 mm kolom air
untuk kategori cair dan 375 mm kolom air untuk kategori sedang dan peneurunan
gas untuk semua variasi terjadi setelah gas mengalami peningkatan yaitu terjadi
pada hari ke- 4 untuk kategori cair dan kategori sedang serta pada hari ke- 3
untuk kategori kantal. Terjadinya peningkatan gas pada kategori kental
disebabkan karena jumlah air yang dicampurkan dengan tinja sapi lebih sedikit
bila dibandingkan dengan kategori cair dan kategori sedang. Dengan jumlah air
yang relatif sedikit tersebut mengakibatkan kinerja dari mikroorganisme di
dalam reaktor dapat berjalan secara maksimal.
SIMPULAN
1.
Tekanan gas yang
dihasilkan degester dengan perbandingan campuran pada kategori yang berbeda –
beda, menghasilkan tekanan gas yang berbeda – beda pula.
2.
Tekanan gas dan waktu
yang dibutuhkan sampai dengan menghasilkan gas yang maksimal terjadi pada variasi kental sebesar 398 mm kolom air
dalam waktu 26 jam.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Azrul. 1995. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan.
Mutiara Sumber Widya, Jakarta.
Benefield, L. D., and
C. W. Randall. 1980. Biological Process
Design for Wastewater Treatment. Prentice – Hall, Inc., Englewood Cliffs,
USA.
Daugherty E.C. 2001. Biomass Energy Systems Efficiency:Analyzed
through a Life Cycle Assessment. Lund Univesity, New York.
Direktorat Jendral
Pertanian, 2006. Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Pertanian., Jakarta.
Direktorat Jendral
Peternakan, 1988. Potensi Energi Biogas
di Indonesia., Jakarta.
ESCAP, 1977. Proceedings
of the Workshop on Biogas and
Other Rural Energy Resources. held at Suva,
and the Roving Seminar on Rural Energy Development,’ held at Bangkok,
Tehran and Jakarta
(Bangkok, Thailand).
ESCAP, 1980. Workshop on Biogas Technology and Utilization, Report, New Delhi.
Gotaas,
Harold B, 1956. Composting, Word Health
Organization. Geneva.
Harahap, F., et al.,1978. Teknologi Gas Bio, Publikasi Pusat Teknologi Pembangunan, ITB,
Bandung.
Prihandana, R. dkk,
2007. Meraup Untung dari Jarak Pagar,
P.T Agromedia Pustaka, Jakarta
Singh, R.K and Misra,
2005. Biofels from Biomass, Department of
Chemical Engineering National Institue of Technology. Rourkela, USA.
Tata Power Company, 1978
‘The Kalyam Biogas Plant’, Publication, Bombay,
India.
Mummys Gold Casino App - JTM Hub
BalasHapusDownload the Mummys Gold Casino App for iOS and Android. Make it easy 동두천 출장마사지 and reliable and 포항 출장샵 easy to use, and the 여주 출장샵 Mummys 부천 출장안마 Gold Casino app is 사천 출장샵 a